Jumat, 18 Oktober 2013
“Mendekati Mu dengan Berhijab”
Sewaktu aku duduk di Sekolah Menengah Pertama aku tak tahu bahwa menutup aurat bagi wanita yang sudah baligh adalah hukumnya wajib dan aku pun tak mau mencari kebenaran tentang hal itu.
Sejak SMP pergaulan ku tak begitu merujuk pada negatif, tapi cara berpakaianku begitu seperti laki-laki (tomboy), sehari-hari memakai celana jeans, rambut pendek seperti laki-laki, karna pada waktu itu saya begitu mengidolakan bassist kotak yaitu chua. Pokoknya aku bergaya semirip mungkin seperti dia. Pujian dari teman-teman membuatku lebih percaya diri atas gayaku.
Hari demi hari ku jalani, saat itu begitu menyenangkan, tapi aku selalu merasakan ada yang kurang, begitu hampa , entah aku tak tahu itu apa, semakin perasaan seperti itu hadir, semakin itu pula aku tak mau menjawabnya.
Setiap kali pulang dari sekolah , aku selalu dipertemukan dengan wanita-wanita yang menurutku begitu indah, wanita yang memakai kerudung lebar hampir menutupi setengah badanya, memakai blouse, plus memakai kaos kaki. Pikirku saat itu, “apakah mereka gak gerah panas terik seperti ini pake pakaian seperti itu? Kalo aku sih gak bakalan mau” tapi, setiap kali melihat mereka, rasa nyaman, sejuk yang kurasakan, mungkin apakah mereka yang memakainya pun merasakan hal demikian. Pikiran seperti itu selalu terbayang-bayang dan dalam benakku selalu ada niat kecil untuk menjadi seperti mereka, tapi beribu-ribu alasan selalu hadir untuk menentang niat baik itu.
Perasan hampa datang begitu kuat terhadap diriku, dan setiap harinya pula aku selalu meminta petunjuk-Nya, “apa yang harus saya lakukan?”.
Pada suatu hari, aku pergi ke warnet, tak sengaja aku mengklik blog yang berisi tentang menutup aurat bagi wanita, aku baca artikel-artikel itu (wajibnya wanita untuk menutup aurat dan siskaan bila mengingkari perintah-Nya), yang membuatku merinding. Sejak saat itu aku mulai membaca surat-surat alquran tentang menutup aurat bagi wanita, dan aku pun termenung, mulai membuka hati dan pikiran, menjawab semua perasaan hampa yang slalu kurasa, “apakah ini semua karna gayaku yang seperti laki-laki? Yang tidak menutup aurat? Yang mengingkari perintah-ya?” tersentak air mataku jatuh mengingat semua dosa-dosa, dan kesalahan yang tlah diperbuat. Kini tekadku untuk berubah, menutup aurat semakin kuat dan aku tahu resiko apa yang akan datang menghampiriku.
Dan kini aku duduk di Sekolah Menengah Kejuruan, aku mulai berhijab, mulai menutupi aurat. Dan ternyata tidak mudah untuk mempertahankannya, selalu ada komentar-komentar pedas yang terdengar, gayaku seperti emak-emak lah pake kerudung dan komentar-komentar lainnya. Tapi semakin banyak komentar-komentar itu, semakin besar pula tekadku untuk mempertahankanya.
Berbulan-bulan kujalani, Alhamdulillah semuanya sudah membaik, orang-orang yang mengejekku kini sudah diam seribu bahasa, lingkunganku sudah menerima perubahanku. kini aku merasakan kenyamanan, kedamaian, merasa lebih dekat dengan-Nya, dan apa yang kupertanyaan pada wanita-wanita indah yang slalu ku lihat sewaktu SMP kini sudah terjawab.
Dan di SMK aku mulai mengikuti kegiatan-kegiatan positif, mengikuti organisasi remaja masjid. Dan berharap itu bisa memotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih sholehah dan istiqomah dalam menutup aurat.
Kini, lebih dari 3 tahun aku tlah menjaga keistiqomahan menutup aurat meski tak mudah, selalu ada ujian dan cobaan yang Allah SWT berikan, “I want to keep My Hijab Until The Rest of My Life”.
Langganan:
Postingan (Atom)